Jakarta, โ Fenomena orang asing yang memilih menetap dan berkiprah di Indonesia bukan hal baru. Namun, keputusan seorang warga negara asing, Mr. Pawel Stanislaw Buda, tinggal di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, menjadi sorotan.
Dalam episode terbaru podcast Merdeka Institute yang tayang di kanal YouTube “Ayo Buka Mata!”, Pawel membagikan pengalaman dan pandangannya setelah pertama kali menginjakkan kaki di Serpong. Pernyataannya cukup mengejutkan: โBeberapa Infrastruktur dan tata kota di sini sudah selevel Singapura.โ
Pernyataan tersebut memicu diskusi luas tentang perkembangan salah satu kawasan penyangga Jakarta ini. Benarkah Serpong sudah setara kota global? Atau ini sekadar hiperbola?
Dalam wawancara dengan host Inge Olivia dari Merdeka Institute, setidaknya ada enam alasan utama mengapa Pawel memutuskan menjadikan Serpong sebagai tempat tinggal dan berkarya.
Satu, menurut Pawel, infrastruktur di Serpong sudah sekelas dunia.
Dia melihat, jalan di Serpong lebar-lebar, keberadaan trotoar yang layak untuk pejalan kaki, hingga integrasi moda transportasi.
โAda LRT yang terhubung langsung dan akses tol ke Jakarta yang sangat mudah. Ini standar kota modern,โ ujarnya.
Kata Pawel, konektivitas dinilai menjadi nilai jual utama Serpong dibanding kawasan lain.
Dua, konsep kota mandiri dari lima pengembang besar di satu kawasan.
Ini menjadi keunikan Serpong, yakni kolaborasi lima pengembang besar dalam satu kawasan: BSD City, Alam Sutera, Summarecon, Paramount Land, dan Lippo Karawaci.
โJarang ada kota di dunia yang lima developer besar bersaing sekaligus melengkapi. Hasilnya, fasilitas jadi sangat lengkap dalam satu radius,โ jelas Pawel.
Tiga, gaya hidup urban yang lengkap. Dari mal bertaraf internasional, kafe-kafe estetik, co-working space, hingga sekolah internasional, semua tersedia di Serpong. Hal ini membuat Serpong tidak hanya layak huni, tetapi juga layak untuk bekerja dan mengembangkan bisnis kreatif serta digital.
Empat, taman kota sangat hijau, dan tertata rapi. Penataan kota menjadi poin penting. Banyaknya taman kota, danau buatan, ruang terbuka hijau, dan sistem drainase yang tertata membuat Serpong terasa nyaman dan tidak semrawut.
โIni yang membuat saya betah. Rasanya aman untuk keluarga,โ ungkapnya.
Lima, tumbuhnya komunitas ekspatriat dan ekosistem global. Pawel melihat peningkatan signifikan jumlah kantor multinasional, startup, dan kampus bertaraf global di Serpong.
โKomunitas ekspat makin besar. Artinya, ekosistemnya sudah mendukung untuk orang asing bekerja dan pensiun di sini,โ katanya.
Enam, surga kuliner Nusantara hingga Western. Dari warung tenda hingga restoran western, dari kuliner tradisional hingga franchise global, semuanya ada di Serpong. Keragaman kuliner ini disebut sebagai salah satu faktor yang membuat betah tinggal jangka panjang.
Apakah hiperbola atau fakta? Saksikan saja pembahasan lengkapnya bersama Mr. Pawel Stanislaw Buda hanya di kanal YouTube “Ayo Buka Mata!”
(Red)

